Make your own free website on Tripod.com

SUMATERA UTARA

Destination        Culture         Attraction       Activities         About  

Surfing Nias

SELANCAR, surfing, atau sekadar bertelanjang dada menikmati sinar mentari di pantai-pantai menjadi gambaran yang lekat begitu kata "Nias" disebut. Bayangan indahnya pulau yang termasuk wilayah Provinsi Sumatera Utara ini pun menyeruak.

Lautnya yang jernih, berlapis warna hijau bening dan biru memukau, pasir putih, dan nyiur pepohonan kelapa. Terselip tetapi tak kalah menarik, yaitu pesona tinggalan budaya megalitik dan juga rumah-rumah adat ramah lingkungan serta berbagai hasil karya masyarakat Nias yang telah berumur ratusan tahun.

Terletak di antara 0 12-1 32 Lintang Utara dan 97-98 Bujur Timur, Kepulauan Nias yang terdiri dari dua kabupaten ini terdiri dari sebuah pulau yang cukup besar, yaitu Pulau Nias dan 131 pulau kecil. Sebanyak 17.779 penduduk Nias mendiami 37 pulau dan 95 pulau lainnya belum dihuni manusia. Luas total Pulau Nias 5.625 kilometer persegi atau sekitar 7,82 persen luas Sumatera Utara secara keseluruhan.

Beberapa obyek wisata Nias sudah dikenal secara internasional. Tempat surfing dan selancar yang disebut paling baik kedua setelah Hawaii, yaitu di Sorake dan Pantai Lagundri, serta kompleks rumah adat Nias di Desa Bawamataluo lengkap dengan daya tarik berupa masih aslinya kehidupan masyarakat di sana dengan berbagai tradisi, seperti rumah adat, ritus lompat batu, tarian perang, dan tinggalan budaya megalitik. Ketiga lokasi pariwisata ini terletak di Kabupaten Nias Selatan.

Obyek wisata di Nias Selatan identik sebagai tempat tujuan bagi para turis. Selain itu masih banyak lokasi yang amat menarik. Di daerah Nias Tengah, misalnya, di tengah jalan menuju Kecamatan Sirombu bakal ditemui Desa Adat Onolimbu. Di desa ini, rumah-rumah adat berusia lebih dari 100 tahun hingga 300 tahun lampau mendominasi perkampungan.

Berbentuk membulat dengan atap dari tatanan daun kelapa kering, berada di ketinggian satu hingga satu meter dari permukaan tanah, dan disangga susunan kayu bulat, rumah adat Nias terbukti tahan gempa. Tatanan dalam rumah adat terkesan lapang dan sirkulasi udara terjaga dengan adanya atap-atap tingkap yang sekaligus memungkinkan sinar matahari menerobos masuk untuk mengusir kelembaban.

DI luar obyek wisata yang spesifik itu, di sepanjang pesisir pantai Pulau Nias menawarkan keindahan pemandangan alam. Sebut saja beberapa pantai di sekitar Gunung Sitoli, Pantai Fodo Indah, Pantai Bunga, dan beberapa pantai lainnya.

Pantai-pantai di pinggiran ibu kota Kabupaten Nias ini menjadi tujuan anak muda Gunung Sitoli dan masyarakat lainnya untuk sekadar menghabiskan waktu pada sore hari. Wisata murah meriah ini menjadi satu-satunya pilihan rekreasi warga yang daerahnya tak dilengkapi dengan sarana hiburan, seperti bioskop, mal, dan hanya terdapat satu kompleks hiburan berupa pub dan karaoke di pusat kota.

 

Begitu banyak potensi siap menggamit wisatawan dan diharapkan mampu membuka sejuta peluang pengembangan ekonomi bagi warga Nias, tetapi kenyataannya ternyata jauh dari melambungnya asa. Untuk menelusuri Nias dan menikmati potensinya yang tersebar di pulau sepanjang 130 kilometer itu saja berbagai kesulitan ditemui. Keterpencilan Nias terlihat jelas dari realitas bahwa lautan yang memisahkan Nias dengan Pulau Sumatera adalah lautan dalam. Nias adalah bagian Sumatera Utara yang "terpencil" karena tidak sembarang kapal bisa mengarungi samudra.

Ada dua sarana dan prasarana transportasi utama menuju Nias, yaitu melalui dua pelabuhan laut yang bisa didarati, yaitu Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, dan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, serta bandar Udara Binaka di Gunung Sitoli. Dari Sibolga di Pulau Sumatera biasanya ada feri yang melayani bolak-balik ke Nias selama dua hari sekali.

Melalui jalur laut, Nias hanya dapat dicapai melalui Pelabuhan Sibolga, Kota Sibolga, yang membutuhkan waktu selama delapan jam perjalanan normal. Waktu perjalanan dapat molor hingga 12 jam jika badai mengganggu laju kapal. Badai di Samudera Hindia bukanlah hal yang jarang terjadi sehingga menjadi risiko umum bagi para pengguna jalur laut.

Sarana transportasi udara juga tersedia, tetapi Bandar Udara Binaka yang terletak sekitar 20 kilometer di selatan Gunung Sitoli agak terbengkalai karena tidak terawat sebagaimana mestinya. Dengan panjang landasan pacu sekitar 1,5 kilometer, hanya pesawat jenis cassa, cesna, dan fokker yang dapat mendarat. Pascagempa menyisakan retakan di landasan pacu sepanjang 150 meter, hal ini kian mengurangi jumlah pesawat dan jenisnya yang dapat mendarat di Binaka.

Terdapat satu maskapai komersial yang memiliki jadwal penerbangan Medan-Nias dan sebaliknya, penumpang atau wisatawan dibebani biaya sekitar Rp 500.000 untuk perjalanan selama hampir satu jam. Tersedia juga satu perusahaan layanan carter pesawat dengan jumlah tempat duduk 8-12 orang saja. Patokan harga 3.800 dollar Amerika Serikat untuk satu kali trip pulang pergi ke Nias dipandang masih sangat mahal dan hanya pihak-pihak tertentu saja yang memanfaatkan jasa ini.

Sarana transportasi darat di Nias menjadi pengalaman pahit bagi turis yang tidak siap dengan petualangan. Perjalanan dari Gunung Sitoli menembus pinggir pantai dan perbukitan menuju Teluk Dalam, Nias Selatan, merupakan perjuangan berat. Sangat beruntung kalau dapat menempuh perjalanan yang berjarak sekitar 120 kilometer itu dalam lima jam. Kondisi jalanan di sana amat buruk dan kalaupun diperbaiki biasanya bertahan untuk waktu yang singkat, selanjutnya akan rusak kembali.

Tanah di Nias labil sehingga jalan yang baru diperbaiki hanya akan berumur pendek karena tanah penahannya selalu melesak ke bawah. Tanah lepas di Nias juga sering menimbulkan longsor yang menutup badan jalan. Kondisi runyam ini kian diperparah dengan hantaman gempa pada akhir Maret lalu.

Buruknya sarana transportasi laut, udara, dan darat sekaligus ini akhirnya mengisolasikan Nias dari segala penjuru. Oleh karena itu, tak perlu heran pula kalau harga barang di sana lebih mahal daripada di daerah Sumatera lainnya.

 

 

Home     |         Destination     |         Culture     |        Attraction     |        Activities     |        About