Make your own free website on Tripod.com

Sumatera Utara

Destination        Culture         Attraction       Activities         About  

Kepariwisataan Sumatera Utara

Makanan umum Malaysia

Makanan di Malaysia melambangkan rakyatnya yang berbilang kaum.

 

Bahan makanan

  Makanan ruji

Beras dan mee merupakan makanan harian kebanyakan rakyat Malaysia.

 

  Daging

Ayam dan lembu merupakan sumber daging utama.

 

  Jenis makanan

 

  Makanan Melayu

  1. Ketupat
  2. Kuih
  3. Lemang
  4. Sate
  5. Nasi lemak
  6. Roti jala

 

Sastra Melayu
Segala pekerjaan pedang itu boleh dibuat dengan kalam
Adapun pekerjaan kalam itu tiada boleh dibuat dengan pedang
Dan beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus
Dengan segores kalam jadi tersarung

(Raja Ali Haji, dalam Mukaddimah Kitab Bustan al Katibin)
Kata pena akulah raja ini dunia
Siapa yang mengambil aku dengan tangannya
Akan kusampaikan kerjanya

(Syair Persia, yang dikutip Raja Ali Haji dalam
Mukaddimah Kitab Bustan al Katibin)

Sastra atau kesusastaran Melayu yang dimaksud di sini adalah sastra yang berkembang di kawasan Melayu. Kesusastraan Melayu tersebut dibagi dua: sastra lisan dan sastra tulisan. Sastra lisan disebut juga tradisi lisan, dan sastra tulisan disebut juga tradisi tulisan. Sulit diperkirakan, kapan awal munculnya tradisi lisan ini di masyarakat Melayu, sementara tradisi tulisan muncul dan berkembang seiring dengan masuknya pengaruh Hindu-Budha dalam masyarakat Melayu. Perkembangan itu semakin pesat dengan masuknya agama Islam ke kawasan ini. Maka, tak heran, jika sebagian besar naskah tradisi tulisan masyarakat Melayu merupakan peninggalan periode Islam. Contoh tradisi lisan adalah pantun, bidal, tambo, dan koba, sementara contoh tradisi tulisan adalah gurindam, hikayat, puisi, syair, dan sajak. Dalam portal ini akan dipaparkan segala permasalahan yang berkaitan dengan kedua jenis tradisi tersebut.

Sastra lisan

Sastra lisan adalah bagian dari tradisi yang berkembang di tengah rakyat jelata yang menggunakan bahasa sebagai media utama. Sastra lisan ini lebih dulu muncul dan berkembang di masyarakat daripada sastra tulis. Dalam kehidupan sehari-hari, jenis sastra ini biasanya dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya, seorang tukang cerita pada para pendengarnya, guru pada para muridnya, ataupun antar sesama anggota masyarakat. Untuk menjaga kelangsungan sastra lisan ini, warga masyarakat mewariskannya secara turun temurun dari generasi ke generasi. Sastra lisan sering juga disebut sebagai sastra rakyat, karena muncul dan berkembang di tengah kehidupan rakyat biasa.

Sastra lisan ini dituturkan, didengarkan dan dihayati secara bersama-sama pada peristiwa tertentu, dengan maksud dan tujuan tertentu pula. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain berkaitan dengan upacara perkawinan, upacara menanam dan menuai padi, kelahiran bayi dan upacara yang bertujuan magis. Sastra lisan sangat digemari oleh warga masyarakat dan biasanya didengarkan bersama-sama karena mengandung gagasan, pikiran, ajaran dan harapan masyarakat. Suasana kebersamaan yang dihasilkan dari sastra lisan berdampak positif pada menguatnya ikatan batin di antara anggota masyarakat. Dalam konteks ini, bisa dilihat bahwa sastra lisan juga memiliki fungsi sosial, disamping fungsi individual. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa memudarnya tradisi sastra lisan di masyarakat merupakan salah satu indikasi telah memudarnya ikatan sosial di antara mereka, dan sebaliknya.

Secara historis, jumlah karya sastra yang bersifat lisan lebih banyak dibanding dengan sastra tulis. Di antara jenis sastra lisan tersebut adalah pantun, peribahasa, nyanyi panjang, dodoi, koba dll. Gurindam, dongeng, legenda dan syair pada awalnya juga merupakan bagian dari tradisi lisan. Namun, perkembangannya mengalami perubahan ketika jenis sastra ini menjadi bagian dari kehidupan di istana–istana Melayu yang telah terbiasa dengan tradisi tulis. Sehingga gurindam, dongeng, legenda dan syair berkembang menjadi bagian dari tradisi tulis. Tampaknya, ini adalah bagian dari wujud interaksi positif antara sastra lisan dan tulisan. Dalam portal ini, berbagai jenis sastra lisan dibahas secara lebih rinci.

1. Pantun.
2. Peribahasa.
3. Dodoi / Nyanyi Budak.
4. Nyanyi Panjang / Koba.
5. Mantra.
6. Cerita Rakyat.

Sastra Tulisan

Menurut Sulastin Sutrisno (1985), awal sejarah sastra tulis Melayu di Nusantara bisa dirunut sejak abad ke-7 M, berdasarkan penemuan prasasti berhuruf Pallawa peninggalan kerajaan Sriwijaya di Kedukan Bukit (683 M), Talang Tuo (684 M), Kota Kapur (686 M) dan Karang Berahi (686 M). Walaupun tulisan pada prasasti-prasasti tersebut sangat pendek, namun sudah bisa dianggap sebagai cikal bakal perkembangan tradisi sastra tulis. Jika merujuk pada kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, maka tradisi sastra tulis sebenarnya muncul lebih awal, sekitar abad ke-5 M. Dari jejak awal perkembangan sastra tulis ini, dapat dilihat bahwa sebenarnya perkembangan sastra tulis berkaitan erat dengan masuknya agama Hindu-Budha ke Nusantara. Setidaknya, bahasa Sangsekerta yang digunakan menunjukkan adanya pengaruh Hindu-Budha tersebut.
Dalam perjalanan sejarah, perkembangan sastra tulis ini jauh lebih semarak seiring dengan masuknya agama Islam di kawasan Nusantara. Media yang digunakan adalah huruf Arab dengan bahasa Melayu, yang kemudian lebih dikenal dengan huruf Arab-Melayu (Jawi). Perkembangan sastra periode Islam ini bisa dilacak sejak abad ke-15 M, ketika kesultanan Malaka berdiri di Semenanjung Melayu. Selanjutnya, ketika Malaka runtuh, perkembangan sastra tulis berpindah ke Aceh dan kemudian ke Riau-Johor dan Riau-Lingga. Karya sastra tersebut ada yang berkaitan dengan pengajaran agama ataupun sekedar cerita dan dongeng. Di antara pengarang-pengarang Melayu yang terkenal adalah Hamzah al-Fansuri, Nuruddin al-Raniri dan Raja Ali Haji. Jenis karya sastra yang paling disukai oleh orang-orang Melayu pada masa dulu (terutama abad ke-19 dan perempat abad ke-20) adalah bentuk syair dan hikayat. Hikayat dan syair ini merupakan pembaruan dari bentuk prosa yang berkembang dalam tradisi lisan. Contoh syair dan hikayat yang pernah populer adalah Syair Perahu yang dikarang oleh Hamzah Fansuri pada abad ke-17 M, dan Hikayat Abdul Muluk, yang ditulis oleh Raja Ali Haji bersama adiknya, Raja Zaleha pada tahun 1846 M. Bentuk lain dari sastra tulis adalah gurindam, sajak dan puisi. Dalam perkembangan selanjutnya, jenis syair dan hikayat kembali menjadi bentuk sastra lisan, disebabkan lenyapnya kreatifitas para sastrawan Melayu dalam dunia kepengarangan. Syair dan hikayat yang ada hanya dihafal dan diceritakan tanpa menghasilkan karya-karya baru.

1. Syair.
2. Gurindam.
3. Hikayat.
4. Roman.
5. Prosa.
6. Sajak.
7. Puisi.
8. Drama.

 

Mitologi

Suku Talang Mamak tergolong Melayu Tua (Proto Melayu) yang merupakan suku asli Indragiri dengan sebutan ”Suku Tuha” yang berarti suku pertama datang dan lebih berhak atas sumber daya alam di Indragiri Hulu.

Asal Usul

Dari Pagaruyung

Ada dua versi mengenai keberadaan Suku Talang Mamak ini. Menurut Obdeyn-Asisten Residen Indragiri, Suku Talang Mamak berasal dari Pagaruyung yang terdesak akibat konflik adat dan agama.

Dari Kahyangan (Mitos)

Sedangkan menurut mitos, suku ini merupakan keturunan Adam ke Tiga dari kayangan yang turun ke Bumi, tepatnya di Sungai Limau dan menetap di Sungai Tunu (Durian Cacar). Hal ini terlihat dari ungkapan ”Kandal Tanah Makkah, Merapung di Sungai Limau, menjeram di Sunagi Tunu” itulah manusia pertama di Indragiri bernama patih.

Lokasi

Suku Talang Mamak sendiri tersebar di kecamatan :

  1. Batang Gansal, Indragiri Hulu, Riau
  2. Batang Cenaku, Indragiri Hulu, Riau
  3. Kelayang, Indragiri Hulu, Riau
  4. Rengat Barat, Indragiri Hulu, Riau
  5. Sumay, Tebo, Jambi : Dusun Semarantihan Desa Suo-suo

NASKAH TANJUNG TANAH: Naskah Aksara Melayu Tertua

Secara umum, naskah Tanjung Tanah berisi undang-undang yang mengatur kehidupan sehari-hari warga Kerinci serta denda yang dijatuhkan kepada pelanggar.Ukuran denda masa itu bervariasi, mulai dari kupang, mas, tahil, hingga kati.

Tanjung Tanah adalah nama sebuah perkampungan di Kerinci.

Sebagian besar pakar aksara dan sejarawan yang ditemui Uli meragukan pendapatnya. Mereka berprinsip tak ada naskah sebelum abad XV. Setahun setelah naskah ditemukan, ia kembali mendatangi pemilik naskah. Iabermaksud meminta sedikit sampel kertas naskah untuk diuji dilaboratorium.

Daripemeriksaan di Rafter Radiocarbon Laboratory, Wellington, Selandia Baru, diperkirakan naskah itu berusia lebih dari 600 tahun. Voorhoevepun menduga naskah ini ditulis sebelum agama Islam sampai ke pelosok Melayu atau diperkirakan ditulis pada  masa kejayaan Adityawarman, sekitar tahun 1345-1377,

Aksara yang digunakan dalam naskah Tanjung Tanah juga unik karena tak menggunakan aksara Palawa, tetapi Pascapalawa.
Naskah Melayu Tertua Dipaparkan Dr Uli Kozok di Balai Arkeologi Medan

Naskah aksara Melayu tertua yang diperkirakan berasal dari abad XIV yang ditemukan di Tanjung Tanah Kabupaten Kerinci Sumatera Barat di paparkan di Balai Arkeologi Medan.

Naskah kuno ini berisi tentang aturan hukum pada masa kerajaan Melayu Dharmasraya Jambi yang dipimpin Raja Adityawarman.

Demikian dikatakan peneliti naskah kuno ini, Dr Uli Kozok saat presentasi yang diikuti para akademisi dan instansi terkait di Kantor Balai Arkeologi Medan, Senin (7/1).

Peneliti kelahiran Jerman yang terkenal berkat penelitiannya yang mendalam pada Aksara Batak ini menyatakan, Naskah Tanjung Tanah menjadi naskah tertua yang telah ditemukan saat ini.

Hal ini telah dibuktikan dari karakteristik bahasa yang digunakan dan dikuatkan dengan test radio karbon untuk mengukur usia kulit kayu yang digunakan dalam naskah kuno tersebut.

“Kita sangat yakin naskah ini sangat kuno karena bahasa sangat sulit dipahami. Begitu juga dengan bahan yang digunakan untuk menulis,”ujarnya.

Menurutnya, atas bantuan beberapa kolega dalam negeri (Indonesia, red) dan luar negeri naskah ini dapat dipahami sebagai naskah yang berisi peraturan pada masa kerajaan Melayu Jambi yang dikirim ke Tanjung Tanah sebagai bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan Melayu.

“Pada saat workshop di Universitas Indonesia untuk menterjemahkan naskah ini, ada peserta yang awalnya ragu namun akhirnya yakin setelah meneliti secara seksama selama satu minggu workshop tersebut,” jelasnya.

Kagum

Dalam kesempatan itu, dia menyatakan kekagumannya karena naskah yang ditulis di atas kulit kayu ini mampu bertahan hingga 700 tahun.

Dalam penelitiannya, dia juga menemukan jawaban mengapa naskah ini bisa bertahan begitu lama dalam kondisi yang cukup baik sehingga masih bisa  dibaca.

Lebih lanjut dikatakan Uli Kozok, naskah ini masih bisa bertahan karena dirawat sebagai benda pusaka oleh pemegangnya yang kuat kemungkinan merupakan keturunan penerima asli naskah dari kerajaan Melayu ini.

Pemegang naskah ini merawat dengan baik benda pusaka dengan caramenjauhkannya dari unsur yang dapat merusak naskah tersebut, seperti digulung dengan kain tebal, dimasukkan dalam peti dan disimpan diloteng sehingga jauh dari kelembaban.

Naskah yang ditulis Kuja Ali atas titah Maharaja Darmasraya sebagai kitab undang-undang kemudian dikirim ke Tanjung Tanah.

“Kemungkinan undang-undang ini tidak begitu digunakan masyarakatTanjung Tanah. Karena umumnya masyarakat saat itu hanya ikut tradisi lisan masyarakat lokal. Jadi ini kemungkinan hanya sebagai lambang kekuasaan kerajaan Melayu,” ujar peneliti yang pernah menimba ilmu danmengajar di Universitas Sumatera Utara ini.

 

 

 

Home     |         Destination     |         Culture     |        Attraction     |        Activities     |        About